Jumat, 01 April 2016

Pengaruh Televisi Terhadap Perkembangan Moral Anak



            Pengaruh Televisi Terhadap Perkembangan Moral Anak
Menurut Sulaiman (1980) dari sekian banyak media massa yang ada saat ini, televisi masih merupakan salah satu produk kemajuan teknologi komunikasi yang lebih sempurna dan dapat menutupi kekurangan yang ada pada media komunikasi yang lainnya yakni surat kabar, majalah, radio, dan film.
Hal ini karena televisi mampu secara utuh menampilkan gambar secara nyata dan lengkap dengan suara aslinya. Sehingga dapat dikatakan bahwa televisi akan mempunyai pengaruh yang lebih besar dan lebih luas. Sebagaimana dikatakan oleh para ahli bahwa 75% dari pengetahuan manusia sampai ke otaknya melalui mata dan yang selebihnya melalui pendengaran dan indera-indera lainnya (Hutapea, 2010). Tapi pada kenyatannya tayangan TV saat ini ada yang tidak memakai suara aslinya. Namun untuk yang lainnya saya sependapat dengan Sulaiman.

Menurut Herfanda (2007) terkait dengan program tayangan TV, saat ini yang banyak dikuatirkan oleh masyarakat adalah pengaruh atau dampak negatifnya, karena menurut masyarakat beberapa program tayangan yang dikembangkan cenderung berupa pesan-pesan yang dapat memberi pengaruh buruk pada penontonnya, seperti siaran berita yang menonjolkan sisi sadisme dan kekerasan, siaran musik yang dianggap lebih menonjolkan sisi erotisme, film-film (sinetron) yang cenderung diwarnai pornografi, skandal cinta (perselingkuhan), dan kekerasan (Bintarti & Winataputra, 2011). Dampak tayangan TV yang tidak baik dan dapat merubah moral anak menurut pendapat saya yaitu percintaan.

 Advertising, now a days is big business and many industries like magazines, the cable TV industry, newspapers and many other media, non media and communication industries survive only on the inflow of money due to advertising. It is because of this that corporate houses use all possible tactics to get our attention first and money ultimately. Some times these attempts involve illegal, dirty or underhand tricks, making untrue claims (Burns et al., 2005) and reliance on false information (Drumwright and Murphy, 2009).

Tidak ada komentar:

Posting Komentar